1Saat dua perampok mulai mendekati Lynx, ia tetap tenang, meskipun pikirannya sibuk mencari jalan keluar. Ia tahu bahwa satu gerakan salah saja bisa berarti kematian bagi para tawanan.

"Hei, lihat dia! Tidak bergerak sedikit pun!" seru salah satu perampok dengan nada mengejek. "Apa kau ketakutan, pria cantik? Sudah tahu nasibmu akan berakhir di tangan kami?"

Seluruh perampok tertawa. Mereka menertawakan fisik Lynx yang terlihat lemah dan memiliki kulit halus seperti wanita.

"Kalau begitu, kita lihat siapa yang benar-benar memegang kendali," gumam Lynx, matanya menyala dengan tekad.

Pertarungan melawan para penjahat ini baru saja dimulai, dan Lynx tahu ia harus menggunakan kepintaran setiap kelebihan yang ia miliki untuk menyelamatkan para tawanan. Lynx harus dapat mengambil keputusan yang tepat karena ini berhubungan dengan nyawanya sendiri dan juga nasib para tahanan.

Melihat Lynx berdiri diam, tak berani bergerak karena ancaman terhadap para tawanan, pimpinan perampok merasa puas. Ia menyeringai lebar, menyilangkan tangan di dada, dan bersikap semakin angkuh.

"Ambil senjatanya. Bawa kesini!" Perintah pimpinan perampok kepada salah satu anak buahnya yang sudah mendekati Lynx.

Dengan takut dan waspada, salah satu perampok mengambil parang di tangan Lynx. "Lepaskan, kau pengecut!" Katanya sambil menarik parang dari genggaman tangan Lynx dengan keras.

Lynx yang belum mendapatkan kesempatan untuk bergerak hanya bisa melepaskan pegangannya dari senjata parang yang selalu menemaninya.

"Haha! Bahkan dia tidak melawan! Hei, apa kau sudah menyerah?" ejek perampok itu sambil mengangkat parangnya tinggi-tinggi, seakan-akan memamerkannya kepada semua orang.

"Kau pikir kau sehebat itu, ya?" kata pimpinan perampok sambil mengambil parang yang di ambil anak buahnya dari tangan Lynx. "Ternyata kau hanya anak kecil yang ketakutan kalau nyawa orang-orang ini dipertaruhkan."

Lynx tetap diam, matanya menatap tajam ke arah pimpinan perampok.

Pimpinan perampok itu mengangkat parang Lynx, mengamatinya dengan saksama. "Senjata ini... luar biasa, senjata seperti ini seharusnya tidak dimiliki anak kecil sepertimu" gumamnya. "Tak heran kau bisa melawan prajurit Monrest.Tapi sekarang, senjata ini milikku. Lihat siapa yang lebih pantas memegangnya!."

Ia mengayunkan parangnya ke udara, mencoba gerakan-gerakan sederhana. "Aku bisa membayangkan betapa senangnya kepala suku Monrest saat aku menyerahkan kau kepada mereka. Kau akan menjadi hadiah besar yang membawa kami semua kejayaan dan kehormatan."

"Bos, itu terlihat seperti senjata dewa!" seru salah satu anak buahnya sambil tertawa. "Bayangkan apa yang bisa kita lakukan dengan itu!"

"Ya!" sambung perampok lain. "Dengan senjata itu dan kepalanya sebagai hadiah, kita akan dikenang sebagai legenda di seluruh pulau ini!"

Tiba-tiba, pimpinan itu berbalik dan tanpa peringatan memukulkan gagang parang Lynx ke perutnya. Lynx, meskipun tubuhnya sangat kuat, pura-pura terhuyung ke belakang dengan wajah meringis.

"Bagaimana rasanya, pahlawan?" ejeknya sambil tertawa keras. "Kau pikir aku akan memperlakukanmu dengan baik hanya karena kau bernilai? Aku ingin memastikan kau tahu siapa bos di sini."

Ia memukulkan gagang parang itu lagi, kali ini ke bahu Lynx, lalu ke punggungnya. Anak buahnya bersorak, menikmati pertunjukan tersebut.

"Haha! Kau lihat itu? Orang yang di takuti suku Monrest, sekarang hanya mainan kita!" teriak salah satu perampok, tertawa puas. "Mereka bilang dia cepat dan mematikan, tapi lihat dia sekarang—tak berdaya!"

"Bos, biar kami juga mencobanya!" seru salah satu perampok dengan nada bersemangat.

Pimpinan itu tertawa. "Kenapa tidak? Tapi ingat, jangan sampai dia mati atau terluka terlalu parah. Aku ingin menyerahkannya kepada Kepala suku Monrest dalam keadaan utuh!"

Anak buahnya langsung mendekat, beberapa di antaranya memukul Lynx dengan tinju atau gagang senjata mereka. Lynx menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak membalas. Ia pura-pura merintih kesakitan, melindungi wajahnya seolah mencoba bertahan.

"Hei, lihat! Kau pikir kau hebat, Lynx?" ejek seorang perampok bertubuh besar, "Sekarang siapa yang kuat? Kami punya senjatamu dan nyawamu ada di tangan kami!"

"Lihat! Sang pahlawan tidak lebih dari sekedar pecundang sekarang!" teriak perampok lainnya sambil tertawa.

Seorang pria bertubuh besar memukul Lynx tepat di rahangnya, tapi Lynx tetap bertahan, membiarkan dirinya terjatuh ke tanah. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu pura-pura tidak bergerak.

"Dia pingsan!" seru salah satu perampok.

"Tubuh seperti wanita. Selain kelincahan dan kecepatan, apalagi yang dia miliki." Sahut yang lainnya.

Pimpinan perampok mendekat, menginjak bahu Lynx dengan keras untuk memastikan. "Huh, sepertinya dia memang tidak sekuat yang dibicarakan orang. Pastikan dia diikat kuat-kuat dan dikurung di tempat paling aman. Jangan sampai dia melarikan diri. Kalau dia kabur, aku akan memenggal kepala kalian semua!"

Dua pria mengangkat tubuh Lynx yang pura-pura pingsan, membawanya keluar dari ruangan. Mereka menyeretnya ke sebuah bangunan kecil di sisi kamp, sebuah gudang dengan pintu kayu tebal yang diperkuat dengan rantai besi. Lynx dilemparkan ke dalam, tubuhnya diikat erat dengan tali yang kuat.

"Dia aman di sini," kata salah satu perampok sambil mengunci pintu. "Bos, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

Pimpinan itu muncul di pintu, masih memegang dan mengagumi senjata barunya, parang Lynx. "Pastikan tempat ini dijaga ketat. Jangan biarkan dia melarikan diri. Dan kalian boleh bersenang-senang, tapi jangan sampai dia cacat! Aku ingin menyerahkannya dengan utuh." Ia terkekeh, senyumnya penuh kesombongan. "Kita akan semakin berjaya."

Di dalam ruangan gelap itu, Lynx tetap diam untuk beberapa saat, memastikan tidak ada yang mengintip dari celah pintu. Ketika suara langkah kaki perampok menjauh, Lynx membuka matanya perlahan, tatapannya tajam dan penuh tekad.

"Bodoh," gumamnya pelan. Ia menggerakkan lengannya sedikit, merasakan kekuatan tali yang mengikatnya. "Tali ini tidak cukup kuat untuk menghentikanku. Tapi aku tidak bisa bertindak gegabah."

Ia menghela napas, mengingat apa yang baru saja terjadi. Lynx tahu ia harus mencari cara untuk membalikkan keadaan. Namun, dengan begitu banyak tawanan yang berada di bawah ancaman musuh, ia perlu memikirkan strategi yang tepat.

"Waktunya menunggu momen yang tepat," katanya dalam hati.

Lynx tetap diam di sudut ruangan gelap itu, menenangkan pikirannya dan menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Namun, ketenangan itu terganggu ketika pintu gudang berderit terbuka. Cahaya obor dari luar menerobos masuk, memperlihatkan dua pria bertubuh besar yang menyeret seorang wanita.

Wanita itu dilempar ke lantai seperti barang tak berharga. Tubuhnya terlihat kurus kering, tanpa pakaian, wajahnya lebam dengan luka dalam bekas goresan benda tajam, dan luka di lengannya masih berdarah. Bekas penyiksaan masih jelas terlihat membekas di seluruh tubuhnya. Lynx langsung mengenalinya—wanita yang sebelumnya diikat di tengah halaman.

"Apa kesalahan wanita ini sehingga mengalami siksaan seperti ini. Sungguh biadab para perampok ini. Mereka sanggup menyiksa seorang wanita hingga seperti ini." Batin Lynx

"Dia tidak ada gunanya di luar. Ikat saja di sini, bersama ‘pahlawan’ kita," salah satu penjaga berkata dengan suara kasar sambil terkekeh.

"Pastikan dia tidak mati dulu. Siapa tahu bos punya rencana lain untuknya," jawab penjaga yang lain sebelum menutup pintu dengan keras, meninggalkan ruangan kembali gelap gulita.

"Sungguh sayang kita belum menikmati tubuh wanita ini. Sekarang tubuhnya sudah terlalu menjijikkan untuk disentuh. " Kata penjaga lainnya.

Lynx menatap wanita itu dengan tatapan prihatin. Napasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya nyaris tidak bergerak. Dengan hati-hati, Lynx merangkak mendekatinya, meskipun tangannya terikat di belakang. Namun, sebelum ia bisa mendekat terlalu jauh, salah satu penjaga yang tinggal di luar menendang pintu hingga terbuka.

"Hei! Jauhi dia, penyusup!" teriak penjaga itu sambil masuk ke dalam ruangan dan menendang Lynx tepat di dadanya.

Lynx terhuyung mundur, pura-pura merintih. Ia tahu tidak ada gunanya melawan sekarang. Penjaga itu mendekat dengan senyuman mengejek, menendang sisi tubuh Lynx lagi untuk memastikan Lynx tetap di tempat.

"Kau pikir kau pahlawan besar? Sekarang kau tidak lebih dari tawanan lemah. Nikmati waktumu disini sebelum kami menyerahkanmu ke Monrest," ejek penjaga itu sebelum pergi, mengunci pintu lagi.

